Tim UI Prediksi Covid19 Terkendali Akhir 2021

Reporter: Budi Haryono 25 Oktober 2020

beritafoto.net - Tim ahli Universitas Indonesia memprediksi pandemi Covid-19 di Indonesia baru terkendali pada akhir 2021 atau awal 2022. Banyak hal harus dilakukan, termasuk perencanaan jangka panjang, untuk menuntaskan wabah Covid-19. Skenario yang dibuat Tim Pemodelan Covid-19 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini, menggunakan asumsi bahwa intervensi terhadap penularan Covid-19 dilakukan melalui dua strategi. Pertama, cakupan tes, lacak, dan isolasi (TLI) dan kepatuhan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) yang masing-masing masih berada dalam ukuran sedang. Kedua, kecepatan epidemi Indonesia yang berada di angka sekitar 0,12. Hasil pemodelan menunjukkan, jika kedua skenario di atas tidak mengalami perubahan, maka Indonesia akan mengalami puncak pandemi pada awal sampai pertengahan 2021. Setelah itu, kurva pandemi akan melandai pada akhir 2021 atau awal 2022. Apabila dilakukan intervensi lebih masif, maksudnya dari segi cakupan tes, lacak, dan isolasi (TLI) yang lebih besar dan warga disiplin 3M secara serentak, Indonesia bisa mengalami kurva epidemi yang berwarna hijau. “Kalau yang hijau memang betul selesainya sama saja di akhir 2021, cuma puncaknya lebih rendah. Kalau puncaknya lebih rendah berarti kasus ringan dan berat, kematian, dan beban pelayanan lebih sedikit,” kata ahli wabah sekaligus tim pemodelan FKM UI, Iwan Ariawan, dalam diskusi daring. Namun, jika cakupan TLI makin rendah dan warga abai, Indonesia berpotensi besar menjalani kurva berwarna merah. “Di mana puncaknya akan jauh lebih tinggi. Kalau yang merah itu fasilitas kesehatan itu tidak akan sanggup untuk menampung beban pasien Covid-19 yang perlu perawatan berat dan ventilator,” ujarnya. Iwan mengatakan, pemerintah dan warga harus serius dalam bekerja sama menuntaskan pandemi. Pemerintah berupaya memperbesar cakupan TLI. Sementara, warga disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan. Iwan mencontohkan, pada cakupan pemeriksaan misalnya, per Oktober 2020 Indonesia baru melakukan tes terhadap 703 orang/1 juta penduduk. Angka ini masih 70,3 persen dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 1000/1 juta penduduk. Lebih lanjut, Iwan menuturkan beberapa provinsi dengan jumlah kasus konfirmasi Covid-19 terbanyak, tes yang dilakukan masih di bawah standar WHO. Misalnya Jawa Barat yang masih sangat jauh dari target WHO, yaitu 43 persen. Kemudian Jawa Timur 68 persen dari target WHO, sedangkan Jawa Tengah pernah mencapai 71,2 persen. Selain itu, kata Iwan, positivity rate (rasio kasus positif dibanding total pemeriksaan) Indonesia juga masih tinggi. Berdasarkan paparan WHO per Rabu (21/10), positivity rate dalam tiga pekan terakhir rata-rata mencapai 13 persen atau lebih tinggi dari standar 5 persen. “Dan kita mesti tahu juga kita ini masih lama untuk menyelesaikan wabah ini sehingga akhirnya kita harus membuat perencanaan jangka panjang sampai 2022 untuk menangani Covid-19 ini,” ujarnya.--lokan, bi