Zohri, dari Rumah Gubuk Mecapai Prestasi Dunia

Reporter: Budi Haryono 12 Juli 2018

Beritafoto.net. Lalu Muhammad Zohri langsung jadi perbincangan se-antero dunia, usai meraih medali emas lari jarak pendek nomor 100 meter putra di Kejuaraan Dunia Atletik IAAF U-20 tahun di Ratina Stadium, Tampere, Finlandia. Zohri, mencatat waktu 10,18 detik.

Meski di lintasan luar (8), Zohri bisa juara dan Ia menyisihkan dua jagoan dari Amerika Serikat yang diprediksi menang yakni Anthony Schwart 10,22 detik (6) dan Eric Harrison 10,22 detik (4). Lazimnya unggulan dan juara di lintasan tengah.

Thembo Monareng dari Afrka Selatan di peringkat empat 10,23 detik dan kelima Dominic Ashwell Inggris 10,25 detik, serta keenam Henrik Larson 10,28 detik.

"Saya senang sekali membuat sejarah. Sekarang saya fokus menatap Asian Games, ini pengalaman yang luar biasa," ujar Zohri.

Siapakah Zohri sebenarnya? Pemuda berusia 18 tahun ini berasal dari Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara.

Kehidupan keluarga Zohri butuh perhatian pemerintah, rumahnya di Lombok Utara juga rumah gubuk.

Zohri kelahiran 1 Juli 2000, merupakan anak ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Semasa hidup, orang tua Zohri, Lalu Ahmad bekerja sebagai nelayan dan melakukan pekerjaan sampingan sebagai buruh tani untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Sedangkan ibundanya, Saeriah meninggal saat Zohri duduk di bangku SD. Ayahnya menyusul menghadap Sang Pencipta hampir setahun lalu. Kala itu Zohri sedang di luar daerah melakukan persiapan menghadapi salah satu kejuaraan bergengsi. Namun terpaksa pulang untuk melihat orang tuanya terakhir kali.

“Zohri kalau pulang tidur di rumah bedek peninggalan orang tua kami. Kami sudah usulkan bantuan program rumah kumuh dari pemerintah Lombok Utara, namun belum ada kabar sampai saat ini,” kata Ma’rif, kakak Muhammad Zohri kepada wartawan.

Ma'rif menceritakan, saat pertama kali ditawari mengikuti kejuaraan, Zohri sempat menolak. Beragam alasannya. Salah satunya persoalan biaya yang dikhawatirkan. Namun dengan dukungan orang tua yang mengharapkan Zohri tetap ikuti, akhirnya membangun semangatnya menerima tawaran itu.

Lalu Muhammad Zohri mengenyam pendidikan SDN 2 Pemenang Barat, dan melanjutkan di SMPN 1 Pemenang. Belum tuntas menjalankan sekolah di SMP itu, Zohri mendapat tawaran untuk ikut dalam kejuaraan. Ia dianggap berpotensi dan berhasil hingga beberapa kali menoreh prestasi.

“Dulu saat SMP, Johri terbilang siswa yang malas. Beberapa kali dijemput ke rumah untuk bisa sekolah oleh gurunya, dan bahkan pernah tidak naik kelas satu kali,” kata sang kakak.

Dengan prestasi yang ditoreh Johri saat ini, Ma’rif pun berpesan agar tetap mempertahankannya demi mengharumkan nama bangsa Indonesia. Namun Johri juga diingatkan tetap memperhatikan masa depannya.

Tidak kalah penting, Ma’rif juga sangat berharap pemerintah memberikan perhatian atas prestasi adiknya. Sebagai kakak, ia berharap Johri tidak menikah dengan waktu yang cepat saat ini.

Perjalanan Johri masih panjang untuk mengharumkan nama Indonesia. Rencananya, sang juara dunia akan tiba di Jakarta, Sabtu (14/7) siang.--antv, bi