Rupiah Melemah Sentuh 14.500

Reporter: Budi Haryono 03 Agustus 2018

beritafoto.net - Nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp14.498 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (3/8). Posisi itu melemah 20 poin atau 0,14 persen dari penutupan kemarin di Rp14.478 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.503 per dolar AS atau melemah dari posisi kemarin di Rp14.446 per dolar AS.

Meski begitu, rupiah tak melemah sendiri di hadapan dolar AS karena hampir semua mata uang di kawasan Asia ikut rontok.

Pelemahan rupiah menjadi terburuk kedua bersama won Korea Selatan dan baht Thailand, setelah renmimbi China yang melemah paling dalam hingga 0,44 persen dari dolar AS.

Selanjutnya, ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing melemah 0,12 persen. Lalu, rupee India minus 0,09 persen, peso Filipina minus 0,06 persen, dan yen Jepang minus 0,04 persen. Hanya dolar Hong Kong yang stagnan.

Begitu pula dengan mata uang negara maju, mayoritas melemah dari dolar AS, seperti poundsterling Inggris melemah 0,17 persen, rubel Rusia minus 0,11 persen, dolar Australia minus 0,04 persen, dan euro Eropa minus 0,01 persen.

Namun, franc Swiss dan dolar Kanada berhasil menguat masing-masing 0,02 persen dan 0,03 persen.

Lukman Leong, Analis Valbury Asia Futures mengatakan pelemahan rupiah masih disetir oleh sentimen dari luar negeri. Sentimen itu berasal dari keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve untuk menahan tingkat bunga acuan dan memberi sinyal kuat kenaikan bunga pada bulan depan.

Lalu, sentimen bertambah dari keputusan bank sentral Inggris, Bank of England (BoE) yang baru saja memutuskan kenaikan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari 0,5 persen menjadi 0,75 persen. Meski, bank sentral Jepang, Bank of Japan (BoJ) tetap menahan tingkat bunga Negeri Samurai.

"Sentimen eksternal ini membuat dolar AS menguat cukup pesat dan ada tambahan tekanan terhadap rupiah dari bank sentral negara lain," ucapnya kepada CNNIndonesia.com.

Menurut Lukman, dengan besarnya tekanan sentimen eksternal, rupiah diperkirakan akan terus melemah hingga pekan depan. Meski, dari internal ada data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 yang akan dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin mendatang (6/8).

Pasalnya, pasar berekspektasi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tak akan melambung jauh dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen. "Ekspektasi tetap di kisaran 5,1 persen, paling tinggi hanya 5,2 persen," katanya.

Untuk itu, BI perlu memberikan sentimen baru pada nilai tukar rupiah, yaitu dengan kembali mengerek bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Meski, kenaikan tersebut hanya bersifat menahan pelemahan rupiah, namun tak bisa benar-benar menguatkan mata uang Garuda.

"Karena kenaikan bunga acuan bank sentral lain dan nanti The Fed akan menaikan, itu memberikan beban kepada BI untuk menaikan bunga, meski inflasi masih rendah. Itu perlu dilakukan bila tak mau depresiasi rupiah terlalu dalam," jelasnya.

Ia memperkirakan rupiah pada pekan depan akan bergerak di rentang Rp14.500-14.700 per dolar AS bila tekanan dari eksternal terus membengkak. --cn, bi