RR: Jangan Hanya Ikut Kemauan Kreditor

Reporter: Budi Haryono 11 Agustus 2017

Jakarta - beritafoto.net. Indikator terkait utang yang paling penting bukan rasio atau perbandingan jumlah utang terhadap produk domestik bruto (GDP), melainkan perbandingan kemampuan bayar utang terhadap penerimaan ekspor.

Jangan sampai yang terjadi adalah, jumlah utang naik, namun kemampuan membayar utang menjadi lemah, karena utang tidak digunakan sebagai instrumen yang produktif.

Begitu pandangan ekonom senior Rizal Ramli yang disampaikan melalui akun twitter @Ramlirizal, Kamis (10/8).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu juga menyayangkan upaya tim ekonomi pemerintahan Joko Widodo mengalihkan perhatian dengan membandingkan rasio utang Indonesia dan rasio utang dua negara maju, Amerika Serikat serta Jepang.

"Perbandingan dengan rasio utang AS itu konyol. Amerika tinggal cetak dolar dan jual ke luar negeri, didukung hegemoni militer dan politik. Membandingkannya dengan Jepang juga ndak pas," tambah Rizal.

Sementara di Jepang, sebagian besar utang domestik dengan bunga murah dan tidak bisa didikte kepentingan bond holder (pemegang surat utang).

Di sisi lain, bila merujuk APBN 2017, maka prioritas utama pemerintah kini adalah membayar bunga utang, baru kemudian urusan pendidikan dan infrastruktur.

Menurut Rizal harusnya tim ekonomi Jokowi-JK harus mencari cara inovatif untuk mengurangi utang. Misalnya, debt-to-nature swap, loan swap, grants dan lainnya.

"Jangan hanya melu (ikut) maunya kreditor," demikian Rizal. --rp