Membawa Uang Asing Lebih dari Rp 1 M Kena Sanksi

Reporter: Budi Haryono 03 September 2018

Beritafoto.net - Bank Indonesia (BI) mulai Senin (3/9) menerapkan sanksi untuk penegakan aturan membawa uang kertas asing (UKA) dengan nilai lebih dari Rp 1 miliar.

Kepala Departemen Pengelolaan Devisa BI Hariyadi Ramelan mengatakan, pengawasan ketentuan tersebut akan dilaksanakan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu). “Pengawasan dilakukan di semua pintu-pintu kepabeanan Indonesia, baik untuk pembawaan UKA ke luar maupun ke dalam daerah pabean,” kata Hariyadi, Senin (3/9).

Dia menjelaskan, setelah pengawasan dilakukan, akan diterapkan sanksi jika ditemukan pelanggaran. Sanksi atas pelanggaran pembawaan UKA tersebut, kata Hariyadi, akan ditegakkan oleh Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu mulai Senin ini sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/2/PBI Tahun 2018.

Selanjutnya untuk prosedur operasi standar (SOP) terkait pengawasan dan penindakan ditandatangani oleh Menteri Keuangan. “Ini diharmonisasikan dengan penegakan sanksi sesuai peraturan pemerintah mengenai pembawaan uang tunai,” ujar Haryadi.

Untuk itu, Haryadi menegaskan, pengawasan dan penindakan akan diberlakukan. Pengawasan tersebut, menurutnya, dilakukan baik untuk pembawaan yang dilakukan melalui jalur penumpang, pelintas batas, maupun kargo.

Saat ini, BI menerapkan sanksi pembawaan UKA dengan nilai lebih dari Rp 1 miliar yang dilakukan oleh orang atau korporasi. Dengan begitu, yang bisa membawa UKA lebih dari batas tersebut hanya yang berizin, yaitu bank dan penyelenggara Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) bukan bank yang telah memiliki izin dan persetujuan BI.

Sanksi denda dipastikan akan diterapkan pada perorangan atau badan yang belum memiliki izin BI sebesar 10 persen dari seluruh jumlah UKA yang dibawa. Sementara itu, jumlah denda paling banyak setara dengan Rp 300 juta.

Saat ini nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (3/9) sore melemah sebesar 126 poin menjadi ke Rp 14.815 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.689 per dolar AS.

"Meskipun Bank Indonesia melakukan intervensi dalam upaya untuk mempertahankan rupiah, namun kuatnya sentimen negatif eksternal menghalangi upaya BI untuk melindungi mata uang domestik," kata Research Analyst FXTM Lukman Otunuga, Senin.

Ia menambahkan, masih adanya ketegangan perdagangan Amerika Serikat dan Cina mengikis selera untuk mata uang negara berkembang. Ini juga didorong oleh spekulasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat yang semakin tinggi.

Baca juga, Hipmi: Nilai Tukar Rupiah Sudah Masuk Lampu Kuning

"Di tengah situasi itu dapat membuat rupiah terdepresiasi lebih lanjut," katanya.

Sejumlah pelaku pasar uang kini menanti kebijakan Bank Indonesia ke depan. Pelaku menunggu keputusan bank sentral apakah akan menaikkan suku bunga lagi tahun ini atau ada kebijakan lain.

"Itu adalah salah satu pertanyaan sejumlah pelaku pasar," katanya.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari ini (3/9), tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp 14.767. Sebelumnya pada penutupan Jumat (31/8), rupiah berada di posisi Rp 14.711 per dolar AS.--cn, bi